
Suatu pagi, usai shalat Subuh dilaksanakan di sebuah pesantren di Kalimantan Selatan, kesibukan tampak menyita para santri. Dari bilik-bilik kamar tidur, tergambar keriangan menyertai para santri yang memilih-milih baju koko, sarung dan peci yang dianggap terbaik untuk dikenakan. Hari ini, pesantren telah diliburkan oleh pimpinan pondok.
Sekitar dua ribuan santri berduyun-duyun keluar pondok seperti iringan sebuah pawai, ramai dan meriah. Mereka dikerahkan menuju rumah-rumah masyarakat di bawah koordinasi beberapa santri senior. Tiap-tiap rumah, didatangi limabelas sampai duapuluh santri. Masyarakat sekitar pesantren, sedang merayakan Maulid Kampung yang dilaksanakan setiap tahun, di bulan Rabi’ul Awal menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tepat pukul 7, prosesi dimulai. Bacaan-bacaan tahlil mulai ramai terdengar dari tiap-tiap rumah penduduk. Pembacaan tahlil dipimpin oleh seorang santri senior. Pahalanya diniatkan untuk keluarga dan sanak saudara tuan rumah yang telah meninggal dunia. Setelah selesai, sambil rehat, minuman dan makanan ringan diedarkan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan syair-syair maulid Al-Habsyi atau Al-Ajab, menuruti keinginan tuan rumah.
Seusai do’a dipanjatkan sebagai penanda akhirnya acara, kembali makanan dan minuman disuguhkan. Kali ini, tuan rumah menyajikan nasi sebagai menu penutup. Sambil menyantap makanan, terjadi perbincangan santai. Muatan obrolan biasanya berkisar di seputar konsultasi masyarakat mengenai persoalan agama dalam kehidupan sehari-hari kepada para santri. Keakraban terasa kental dalam suasana ini.
Sekitar pukul 9, seluruh masyarakat dan santri yang terpecah di rumah-rumah penduduk, berangkat menuju mushalla atau langgar untuk melaksanakan acara puncak, yaitu mendengarkan ceramah agama yang diawali sebelumnya dengan pembacaan syair-syair maulid. Berbeda dengan syair yang dibaca di rumah-rumah penduduk, syair yang dipilih biasanya lebih panjang, seperti Syarful Anam.
Acara puncak ini terkesan massal, karena semua masyarakat baik kampung pelaksana maulid maupun kampung tetangga serta para santri terlibat dalam ritual ini. Semua berbaur, tanpa jarak, menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Ceramah agama merupakan bagian akhir acara yang biasanya disampaikan oleh seorang kyai yang lagi populer di masyarakat. Setelah selesai, para santri dan masyarakat kembali ke rumah-rumah sebelumnya untuk menyantap makanan dan berpamitan dengan tuan rumah yang mengundang.
Gambaran Maulid Kampung di atas, terjadi sekitar lima belas tahun yang lalu, saat saya masih menjadi santri di sebuah pondok pesantren di daerah Kalimantan Selatan. Saya berusaha menggambarkan peristiwa tersebut berdasarkan ingatan masa lalu. Namun, karena setiap tahun saya mengikuti Maulid Kampung ini, semua terekam baik dalam ingatan. Bahkan, waktu itu, momentum ini sangat saya rindukan, selain acaranya yang massal, juga terjadinya persuaan yang hangat antara para santri dengan masyarakat.
Ingatan terhadap even di atas, menyeruak dalam benak saya beberapa waktu terakhir, terutama saat menonton acara-acara keagamaan di televisi dan mendengar di radio. Meskipun, kecanggihan teknologi komunikasi saat ini telah membuat banyak hal dalam hidup menjadi mudah, termasuk di antaranya, berkonsultasi masalah keagamaan dan menyerap siraman rohani dari para ustazd di televisi dan radio. Namun, saya merasa ada yang “lenyap” dari sekian kenyamanan ini. Saya merasa kehilangan suasana kehangatan perjumpaan fisik dengan segala ekspresi emosi, pertukaran cerita dan rasa solidaritas serta keakraban yang terbangun di saat berkumpulnya masyarakat.
Saat ini, semuanya seperti sudah tergantikan oleh telpon, SMS dan VCD-VCD yang menampilkan suasana religius. Pesan keagamaan bisa dengan cepat didapat hanya dengan mengirim SMS ke sebuah operator yang menyajikan layanan tersebut. Acara zikir bisa diikuti dalam suguhan tayangan televisi yang menyiarkannya secara langsung dan seterusnya. Semua bisa diperoleh tanpa harus kesusahan bergegas menuju ke suatu tempat atau direpotkan dengan rembug kampung untuk menyelenggarakannya. Semua bisa dicapai hanya dengan duduk di depan televisi dan memencet nomor telpon.
Banyak even festival yang masih bergulir di tengah masyarakat dengan semangat kebersamaan yang tinggi.
Sebagian festival memang terkesan mulai kering makna. Festival keagamaan atau kebudayaan hanya sekadar menjadi tontonan pariwisata di tengah kebutuhan identitas kebudayaan di era otonomi daerah saat ini. Hal ini tersirat pada beberapa festival menyambut tahun baru Hijriyah, dalam arak-arakan berbagai pernik keislaman di berbagai tempat akhir-akhir ini. Makna yang terkandung dari festival-festival model ini hanya mengusung keriuhan dan gegap gempita, yang segera menguap setelah semua prosesi usai berlangsung.
Mungkin ada baiknya, kita menggiatkan kembali pertemuan-pertemuan kampung, semisal kelompok-kelompok pengajian, tahlilan, yasinan dan sebagainya, di saat rasa solidaritas dan komunalitas mulai dikikis oleh kecanggihan teknologi komunikasi. Even-even festival keagamaan yang kaya muatan kultural seperti Maulid Kampung di atas perlu digalakkan terus menerus. Mungkin terkesan romantik mengajukan hal ini di masa-masa sekarang, tapi saya merasa itulah sebagian modal sosio-kultural yang mesti dipelihara, dikelola dan ditransformasikan dalam kehidupan sosial kita saat ini.(Dimuat di Majalah Syir'ah No. 42 Jakarta, 2005).Najib Kailani


