Tuesday, March 20, 2007

Ihwal Festival Keagamaan Kita







Suatu pagi, usai shalat Subuh dilaksanakan di sebuah pesantren di Kalimantan Selatan, kesibukan tampak menyita para santri. Dari bilik-bilik kamar tidur, tergambar keriangan menyertai para santri yang memilih-milih baju koko, sarung dan peci yang dianggap terbaik untuk dikenakan. Hari ini, pesantren telah diliburkan oleh pimpinan pondok. Para santri diundang oleh masyarakat kampung sekitar pesantren untuk menyemarakkan acara maulid Nabi Muhammad SAW di rumah-rumah mereka.


Sekitar dua ribuan santri berduyun-duyun keluar pondok seperti iringan sebuah pawai, ramai dan meriah. Mereka dikerahkan menuju rumah-rumah masyarakat di bawah koordinasi beberapa santri senior. Tiap-tiap rumah, didatangi limabelas sampai duapuluh santri. Masyarakat sekitar pesantren, sedang merayakan Maulid Kampung yang dilaksanakan setiap tahun, di bulan Rabi’ul Awal menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.


Tepat pukul 7, prosesi dimulai. Bacaan-bacaan tahlil mulai ramai terdengar dari tiap-tiap rumah penduduk. Pembacaan tahlil dipimpin oleh seorang santri senior. Pahalanya diniatkan untuk keluarga dan sanak saudara tuan rumah yang telah meninggal dunia. Setelah selesai, sambil rehat, minuman dan makanan ringan diedarkan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan syair-syair maulid Al-Habsyi atau Al-Ajab, menuruti keinginan tuan rumah.


Seusai do’a dipanjatkan sebagai penanda akhirnya acara, kembali makanan dan minuman disuguhkan. Kali ini, tuan rumah menyajikan nasi sebagai menu penutup. Sambil menyantap makanan, terjadi perbincangan santai. Muatan obrolan biasanya berkisar di seputar konsultasi masyarakat mengenai persoalan agama dalam kehidupan sehari-hari kepada para santri. Keakraban terasa kental dalam suasana ini.


Sekitar pukul 9, seluruh masyarakat dan santri yang terpecah di rumah-rumah penduduk, berangkat menuju mushalla atau langgar untuk melaksanakan acara puncak, yaitu mendengarkan ceramah agama yang diawali sebelumnya dengan pembacaan syair-syair maulid. Berbeda dengan syair yang dibaca di rumah-rumah penduduk, syair yang dipilih biasanya lebih panjang, seperti Syarful Anam.


Acara puncak ini terkesan massal, karena semua masyarakat baik kampung pelaksana maulid maupun kampung tetangga serta para santri terlibat dalam ritual ini. Semua berbaur, tanpa jarak, menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Ceramah agama merupakan bagian akhir acara yang biasanya disampaikan oleh seorang kyai yang lagi populer di masyarakat. Setelah selesai, para santri dan masyarakat kembali ke rumah-rumah sebelumnya untuk menyantap makanan dan berpamitan dengan tuan rumah yang mengundang.


Gambaran Maulid Kampung di atas, terjadi sekitar lima belas tahun yang lalu, saat saya masih menjadi santri di sebuah pondok pesantren di daerah Kalimantan Selatan. Saya berusaha menggambarkan peristiwa tersebut berdasarkan ingatan masa lalu. Namun, karena setiap tahun saya mengikuti Maulid Kampung ini, semua terekam baik dalam ingatan. Bahkan, waktu itu, momentum ini sangat saya rindukan, selain acaranya yang massal, juga terjadinya persuaan yang hangat antara para santri dengan masyarakat.


Di beberapa tempat di wilayah Kalimantan Selatan, ritual yang sama juga dilaksanakan. Biasanya masyarakat yang menyelenggarakan Maulid Kampung akan mengundang warga kampung lain untuk hadir menyemarakkan acara, sambil mempererat hubungan silaturrahmi antar kampung, begitu juga sebaliknya. Tradisi ini, sepertinya masih hidup sampai sekarang, meskipun terjadi perubahan di sana-sini.


Ingatan terhadap even di atas, menyeruak dalam benak saya beberapa waktu terakhir, terutama saat menonton acara-acara keagamaan di televisi dan mendengar di radio. Meskipun, kecanggihan teknologi komunikasi saat ini telah membuat banyak hal dalam hidup menjadi mudah, termasuk di antaranya, berkonsultasi masalah keagamaan dan menyerap siraman rohani dari para ustazd di televisi dan radio. Namun, saya merasa ada yang “lenyap” dari sekian kenyamanan ini. Saya merasa kehilangan suasana kehangatan perjumpaan fisik dengan segala ekspresi emosi, pertukaran cerita dan rasa solidaritas serta keakraban yang terbangun di saat berkumpulnya masyarakat.


Saat ini, semuanya seperti sudah tergantikan oleh telpon, SMS dan VCD-VCD yang menampilkan suasana religius.
Pesan keagamaan bisa dengan cepat didapat hanya dengan mengirim SMS ke sebuah operator yang menyajikan layanan tersebut. Acara zikir bisa diikuti dalam suguhan tayangan televisi yang menyiarkannya secara langsung dan seterusnya. Semua bisa diperoleh tanpa harus kesusahan bergegas menuju ke suatu tempat atau direpotkan dengan rembug kampung untuk menyelenggarakannya. Semua bisa dicapai hanya dengan duduk di depan televisi dan memencet nomor telpon.


Banyak even festival yang masih bergulir di tengah masyarakat dengan semangat kebersamaan yang tinggi. Ada yang bernuansa keagamaan dan ada pula yang kultural. Namun, semua festival tersebut kebanyakan adalah pemaduan di antara keduanya. Kehidupan keagamaan kita adalah kehidupan yang sarat muatan kultural begitu juga sebaliknya. Semua merupakan “modal” masyarakat yang bisa ditransformasikan dalam kehidupan sekarang, di saat nilai-nilai kebersamaan mulai tergantikan oleh individualisme.


Sebagian festival memang terkesan mulai kering makna. Festival keagamaan atau kebudayaan hanya sekadar menjadi tontonan pariwisata di tengah kebutuhan identitas kebudayaan di era otonomi daerah saat ini. Hal ini tersirat pada beberapa festival menyambut tahun baru Hijriyah, dalam arak-arakan berbagai pernik keislaman di berbagai tempat akhir-akhir ini. Makna yang terkandung dari festival-festival model ini hanya mengusung keriuhan dan gegap gempita, yang segera menguap setelah semua prosesi usai berlangsung.


Mungkin ada baiknya, kita menggiatkan kembali pertemuan-pertemuan kampung, semisal kelompok-kelompok pengajian, tahlilan, yasinan dan sebagainya, di saat rasa solidaritas dan komunalitas mulai dikikis oleh kecanggihan teknologi komunikasi. Even-even festival keagamaan yang kaya muatan kultural seperti Maulid Kampung di atas perlu digalakkan terus menerus. Mungkin terkesan romantik mengajukan hal ini di masa-masa sekarang, tapi saya merasa itulah sebagian modal sosio-kultural yang mesti dipelihara, dikelola dan ditransformasikan dalam kehidupan sosial kita saat ini.(Dimuat di Majalah Syir'ah No. 42 Jakarta, 2005).Najib Kailani

Friday, December 22, 2006

Pohon Kristen







Suatu hari, usai shalat Ashar dilaksanakan di lingkungan pondok pesantren Ar-Raudah, Ustadz Zainal, kyai muda yang kharismatik di pesantren itu memanggil beberapa santri yang telah selesai membaca wirid. Sudah beberapa hari ini Ustadz Zainal merasa gelisah, karena di depan surau pesantren telah tumbuh dan berdiri sebuah pohon cemara. Ustadz Zainal merasa ini suatu yang tak lazim, karena pohon cemara adalah simbol Natal umat Kristiani. Menjelang Natal, pohon cemara biasanya dihias dengan berbagai pernik bingkisan Natal dan diwarnai kerlap-kerlip lampu yang rupawan.

Setelah beberapa santri bertandang ke kediamannya, ustadz muda itu berkata, “Anak-anak sekalian, di depan surau kita, saya lihat telah berdiri sebuah pohon cemara, pohonnya Kristen, karena itu, saya minta kalian mencabutnya”. Kemudian dia melanjutkan, “Sangat tidak baik jika lingkungan pesantren dipenuhi pohon Kristen tersebut, apalagi berdiri di depan surau”. Kata ustadz muda itu dengan bersemangat. Udin, yang mengetahui asal-usul keberadaan pohon cemara itu berkata, “Tapi ustadz, pohon itu ditanam oleh Kyai Arifin”, pengasuh pondok pesantren. Dengan nada suara yang berat dan terdengar bingung, Udin melanjutkan, “Kami tidak berani mencabut pohon itu ustadz, karena itu tanamannya Kyai Arifin”. Mendengar itu, Ustadz Zainal bimbang, lalu berkata, “Meski itu tanamannya Kyai Arifin, tapi itukan pohon Kristen”. Ustadz Zainal melanjutkan, “Nanti setelah dicabut, tanamannya diganti pohon anggrek atau melati, kan lebih bagus, ketimbang pohon cemara.” Tidak berani membantah dan mendebat, karena dalam tradisi pesantren bisa dicap suul adab atau perilaku tercela, Udin dan kawan-kawannya beranjak pamit.

Sesampai di bilik asrama, Udin membincangkan pertemuannya dengan Ustazd Zainal tadi bersama beberapa santri senior. Para santri yang diajak berdiskusi tampak menjadi buntu. Menolak mencabut pohon cemara itu, bisa dicap suul adab dengan guru, namun, mencabut pohon itu bisa dimarahi Mbah Kyai, karena pohon itu merupakan tanamannya. Bahkan, Udin sering melihat Mbah Kyai menyiram sendiri pohon cemara itu. Sebuah pilihan yang dilematis. Dalam kondisi yang serba salah tersebut, Ahmad, seorang santri senior menyarankan agar mereka menghadap Mbah Kyai, untuk menanyakan ihwal ini. Akhirnya perbincangan di bilik itu ditutup dengan kesepakatan akan mendatangi Mbak Kyai sehabis Isya, saat kegiatan pesantren sudah selesai.

Setelah Isya’, Udin dan beberapa santri mendatangi kediaman Kyai Arifin. Sang Kyai yang baru beranjak dari sajadahnya setelah wiridan Isya’ menerima kedatangan mereka. Setelah mempersilahkan duduk, Kyai Arifin menanyakan maksud kedatangan mereka. Udin yang ditunjuk kawan-kawannya sebagai juru bicara, menjelaskan perihal pohon cemara di depan surau itu secara rinci. Setelah mendengar cerita Udin, Mbah Kyai, tampak tersenyum, lalu berkata, “Biarkan saja pohon itu tumbuh di depan surau, aku sengaja menanamnya untuk menambah keindahan dan kerindangan lingkungan pesantren”. Allah menyukai yang indah” Begitu Mbah Kyai berdalil. Kemudian dia meneruskan, “Kalau alasan ingin dicabut karena cemara adalah pohon Kristen, memang kita pernah bertanya kepada pohon itu, apa agamanya?” Kata Mbah Kyai sambil tertawa lebar. “Sudahlah, nggak usah diributkan, nanti sehabis kalian dari sini, mampir ke tempat Ustadz Zainal dan suruh dia datang ke tempatku, biar kujelaskan kepadanya”. Demikian, Mbah Kyai menutup pembicaraan malam itu.

Sehabis itu, Udin langsung menuju rumah Ustadz Zainal dan mengatakan kalau Mbah Kyai memanggilnya. Esok hari dan hari-hari selanjutnya, Udin dan kawan-kawannya, masih tetap melihat pohon cemara itu tumbuh dan menjulang indah di depan surau di lingkungan pesantren Ar-Raudah. (Najib Kailani)

Sunday, November 26, 2006

Memasuki “Senja” Seno Gumira Ajidarma













Kalau anda pembaca cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma, anda tentu akan sering berjumpa dengan kata senja. “Senja” Seno tidak hanya berarti suatu peristiwa di mana langit menjingga dan mentari meredup, melainkan juga sebuah “dunia” yang menarasikan berbagai pengalaman, mulai dari suasana romantis, keindahan dan kesyahduan (1999), sampai kemuraman, kesedihan dan perpisahan (1996). Bahkan senja Seno juga berarti kata benda, yang dapat dibawa, dipotong dan disimpan serta dikirimkan kepada orang-orang yang diingini.


Tulisan ini berupaya menghampiri senja Seno dari salah satu cerpennya yang berjudul “Hujan, Senja dan Cinta” yang saya ambil dari kumpulan Sepotong Senja Untuk Pacarku (2002). Ketertarikan saya terhadap cerpen ini bermula dari judul cerpen yang menderetkan Hujan dan Senja dengan Cinta. Hujan dan Senja merupakan realitas konkrit, sebaliknya Cinta adalah realitas abstrak. Hal ini mengusik saya untuk membacanya dan berharap menemukan jawaban mengapa tiga “realitas” itu menjadi (di)sejajar(kan)? Maka mulailah saya membaca.

Plot Cerpen
Cerpen ini bercerita tentang dua orang yang (pernah) saling jatuh cinta dengan latar belakang kehidupan kelas menengah ke atas di kota metropolitan. Hal ini tampak pada kode-kode kultural yang digunakan di dalam cerpen ini, seperti gedung bertingkat, mobil, imajinasi luar negeri seperti Milan dan Kyoto. Di samping itu, ungkapan hujan dan senja makin menguatkan konteks, karena hanya orang-orang yang memiliki waktu luang (leisure time) dan tidak pernah bermasalah secara ekonomi saja yang dapat memperhatikan dan menikmati saat-saat hujan turun dan saat-saat senja merekah. Sedangkan orang-orang yang hidupnya disibukkan untuk mengganjal perut tidak akan pernah punya kesempatan menikmati hujan apalagi senja. Tokoh dalam cerpen ini adalah sepasang kekasih di atas. Sang laki-laki disebut sebagai “ia” dan tokoh perempuannya sebagai “dia” dengan menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki dan perempuan.


Sebagaimana layaknya orang yang dirundung asmara, “ia” dan “dia” menjalani percintaan mereka penuh suka-cita. Segala sesuatu yang hadir adalah keindahan semata. Sampai pada suatu ketika, cinta yang membara di antara keduanya memudar dan sirna. Mulai sejak itu, segala yang pernah dijalani “ia” dan “dia” bersama menjadi menyakitkan dan mengganggu. Namun kenangan tak akan pernah terhapus meski “ia” dan “dia” telah menemukan pasangan hidup yang lain di kemudian hari.

Metafor Hujan dan Senja
Dalam cerpen ini, hujan dan senja tampak menjadi ‘metafor primadona’ yang membalut keseluruhan cerita. Dari kalimat pembuka cerpen ini, kita sudah disuguhkan dengan ungkapan yang sempurna secara gramatik, namun mengalami anomali secara semantik. Cerpen ini dibuka dengan kalimat "Karena ia mencintai dia, dan dia menyukai hujan, maka ia menciptakan hujan untuk dia". Begitulah hujan itu turun dari langit bagaikan tirai kelabu yang lembut dengan suaranya yang menyejukkan. Secara gramatikal kalimat ini tidaklah bermasalah, namun secara semantik mengalami kebuntuan, yaitu pada kata maka ia menciptakan hujan untuk dia.


Meskipun hujan bisa saja dibuat oleh manusia, yang disebut dengan hujan buatan, namun hal itu biasanya dilakukan untuk mengatasi kekeringan atau musim kemarau. Bahkan, itu pun tidak setiap saat dan tidak selalu berhasil. Terkadang wilayah yang diproyeksikan dituruni hujan, malah tidak diguyur hujan. Seringkali hujan berpindah ke tempat yang tidak dituju. Hujan yang sesungguhnya hanya bisa diciptakan oleh Tuhan. Lalu apa makna hujan di sini?


Dalam cerpen ini, hujan digambarkan selalu turun mengiringi tiap langkah kaki sang perempuan, Hujan itu tidak pernah meninggalkan dia lagi. Hujan itu selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Ke mana pun dia datang, datang pula hujan ke tempat itu. Hujan di sini berarti bukanlah hujan yang sesungguhnya, melainkan hujan sebagai ungkapan metaforik. Ia menggambarkan entitas pengalaman percintaan sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara, di mana gairah, curahan perasaan dan kebahagiaan melingkupinya.


Hujan menjadi narasi cinta yang membara dan juga menyakitkan. Diceritakan bagaimana hujan diresapi oleh sang perempuan dengan penuh harapan seperti terungkap dalam kalimat “Terkadang dibukanya jendela mobil, ditadahinya air hujan dengan tangannya, lantas direguknya. Begitulah caranya cinta meresap ke dalam tubuh, menjadi bagian alam. Meskipun bukan musim hujan, selalu ada hujan yang turun hanya untuk dirinya”. Sebaliknya, hujan juga menjadi petanda kebosanan, hilangnya gairah dan seterusnya, ketika cinta keduanya telah memudar seperti terungkap dalam kalimat protes sang perempuan kepada sang laki-lakinya “Cinta kita sudah berakhir, kenapa hujan itu masih saja mengikuti aku ke mana-mana? Lihat, semua orang jadi terganggu. Setiap kali keluar mobil aku harus pakai payung, jalan-jalan di halaman rumah sendiri harus pakai jas hujan. Gimana dong? Kasihan tamu-tamuku. Di mana-mana asal orang berurusan denganku menjadi kehujanan dan basah. Bisa nggak kamu tarik hujanmu itu?”


Demikian juga halnya dengan ungkapan senja. Ia tidak saja berarti suatu peristiwa di mana langit menjingga, dan mentari mulai meredup, melainkan juga menjadi penanda waktu perpisahan. Suatu momentum yang membuat hujan (baca: gairah percintaan) menguap. Senja adalah ambang batas di mana yang lalu mulai berlalu, digantikan oleh saat kekinian. Diceritakan bagaimana sang lelaki mulai menemukan perempuan yang lain di waktu senja, “namun pada suatu senja yang gemilang, cinta jualah yang menyelamatkannya, ketika seorang dia yang lain muncul kembali dari balik kenangan yang terhapus”.


Selain itu, kata senja berikutnya juga menghasilkan efek makna yang lain lagi, yaitu sebuah momentum yang “remang-remang”, tanpa ikatan janji yang meyakinkan dan bisa menyakitkan pula. Sisipan puisi Goenawan Mohamad makin menguatkan kesan bahwa perjumpaan senja adalah pertemuan yang bisa ditutup dengan gelap malam, atau pertemuan yang akan berujung pada perpisahan. Dengan ungkapan lain, tak ada kata keabadian bahkan dalam cinta sekalipun. Ini bisa kita baca dari kalimat Dia tidak berkata apa-apa, seperti kutipan sebuah sajak : Tidak ada janji/ pada pantai. Ia pun tahu, tak ada janji, pada perjumpaan yang mana pun—tapi janji-janji memang tidak diperlukannya, karena janji sebuah cinta yang paling membara sekali pun hanyalah janji suatu senja yang terindah. Kecuali di Negeri Senja, adakah senja yang tidak berakhir?

Dari Pengalaman Menjadi Kenangan
Hujan dan senja menjadi metafor yang melukiskan pengalaman cinta dan kenangan di antara pasangan “ia” dan “dia” di dalam cerpen ini. Ada pengalaman percintaan yang membara sepanjang hujan turun membasahi bumi, begitu diresapi, dihayati dan terekam dalam ingatan, namun saat perpisahan mulai menyapa cinta, semuanya berubah menjadi ihwal yang menyusahkan, merepotkan dan tidak mengenakkan. Momentum senja telah menutup pengalaman menjadi kenangan. Sang perempuan telah mempunyai suami dan sang laki-laki telah mempunyai isteri. Semua “pengalaman” hujan telah menjadi “kenangan” hujan, sebagaimana tertoreh dalam benak sang lelaki “terlalu banyak hal dari dia telah meresap ke dalam dirinya dan tak mungkin dihapus untuk selama-lamanya. Gambar-gambar, foto-foto, kata-kata. Waktu meninggalkan jejak, begitu pula saat-saat dilaluinya bersama dia”.


Saya kira masih banyak hal yang bisa dielaborasi lebih dalam dari metafor hujan dan senja dalam cerpen ini, terutama kalau membacanya dengan melibatkan teks-teks cerpen lainnya di dalam kumpulan Sepotong Senja Untuk Pacarku, apalagi ditambah dengan cerpen-cerpennya di kumpulan yang lain. Menurut hemat saya, Seno terkesan punya obsesi mendalam terhadap senja yang selalu menjadi narasi dalam cerpen-cerpen dan salah satu novelnya yang berjudul Negeri Senja (2003).


Di samping hal di atas, keistemewaan cerpen ini juga terletak pada gaya bertutur yang tidak menggurui. Seno telah menggunakan model naratif dalam mengkonstruksi cerita, sehingga menghasilkan efek yang dapat mengajak pembaca untuk menyapa pengalaman cintanya masing-masing. Ia tidak bicara apa itu cinta? Melainkan bagaimana cinta?. Dalam semiotika Barthesian, hal ini disebut dengan punctum. Punctum adalah efek teks, baik foto, iklan maupun novel yang langsung menyentuh pengalaman subjektif pembaca. Teks akan bercerita sendiri bersama pengalaman pembaca di luar dari narasi yang telah ada. Barthes mengibaratkan punctum seperti sebuah foto telanjang yang memamerkan alat-alat genital (studium) yang menghasilkan efek erotis terhadap orang yang melihatnya. Efek erotis inilah yang disebut dengan punctum. Dalam cerpen Seno ini hujan dan senja telah memberi efek subjektif pengalaman cinta yang mengajak pembaca untuk mengulang ingatan pengalaman percintaan yang sudah tentu berbeda-beda pada tiap pembaca yang meresepsinya. (Najib Kailani)

Dari Komik ke Animasi; Mahabharata R.A Kosasih















Bagi penggemar komik era 50an dan 70an, nama R.A Kosasih tentu menyimpan ingatan tersendiri. Dari tangan pria Sunda itulah lahir komik wayang Indonesia yang mengadaptasi epos Mahabharata dan Ramayana berdasarkan garapan Ardisoma. Berbekal pengalaman sebagai pegawai Kebun Raya Bogor yang khusus bekerja sebagai tukang gambar binatang dan tanaman, ia mencoba merambah dunia komik bersama penerbit Melodi di tahun 1953. Karyanya mendapat tempat di hati pembaca Indonesia, sehingga di tahun 70an komik wayangnya kembali dicetak ulang dengan narasi menyesuai ejaan baru bahasa Indonesia. Kini di tahun 2006 komiknya difilmkan dalam bentuk animasi 2D dan ditayangkan di RCTI setiap Sabtu pagi jam 08.00 Wib. Bagaimana perubahan dari cerita ke komik dan selanjutnya ke film animasi?


Marcell Bonneff dalam bukunya Komik Indonesia (2001) menyebut bahwa komik wayang bagi orang “asing” bisa disebut sebagai komik asli Indonesia, meskipun ceritanya diadaptasi dari epos Mahabharata dan Ramayana yang bersumber dari India. Di awal kemunculannya, komik wayang memang diandaikan sebagai penyeimbang komik-komik impor yang telah menyerbu tanah air kala itu. Tahun-tahun 50an merupakan era ideologis bagi Indonesia. Politik anti imperialisme dan neokolonialisme Soekarno memang menjadi konteks penting yang mendorong popularitas model-model artikulasi yang khas Indonesia.


Komik wayang R.A Kosasih mengambil ide ceritanya dari karya-karya Ardisoma Seri Wayang Purwa. Seri ini menceritakan prasejarah Ramayana dan Mahabharata. Menurut Bonneff, untuk memindah cerita Mahabharata Ardisoma ke bentuk komik , R.A Kosasih membutuhkan waktu dua tahun dan menghasilkan 26 jilid komik. Meskipun berangkat dari tradisi wayang, namun perpindahan bentuk dari cerita ke komik tentu memiliki perbedaan yang signifikan. Komikus bisa menambah dan menghilangkan beberapa tokoh yang sudah ada di dalam dunia wayang. Dalam konteks ini komikus memanfaatkan lakon carangan yang merupakan lakon interpretif terhadap epos Mahabharata dan Ramayana. Di dunia wayang misalnya, terdapat tokoh Bethara Penyarikan, namun di karya R.A Kosasih, tokoh ini ditiadakan. Pemunculan tokoh-tokoh baru dan penghilangan tokoh yang ada disesuaikan dengan kebutuhan cerita yang ingin disampaikan.


Di samping itu, meskipun diolah dari seri Wayang Purwa, namun dari sisi rupa, komik Mahabharata R.A Kosasih tampil sangat realis. Menurut Bonneff, hal ini terjadi karena Kosasih berasal dari tradisi Sunda yang lebih dekat dengan tradisi wayang golek dan wayang orang. Selain alasan kedekatan tradisi wayang tersebut, pilihan rupa yang realis dalam komik-komik wayang R.A Kosasih secara tidak langsung juga “membumikan” tokoh legenda ke dunia nyata. Arjuna digambarkan sebagai lelaki rupawan, Gatot Kaca yang berbadan tegap perkasa dan lain sebagainya. Meskipun konsekuensinya adalah pemiskinan imajinasi pembaca, namun “pemanusiaan” tokoh-tokoh wayang oleh R.A Kosasih telah mampu mendekatkan pembaca yang tidak banyak mengenal dunia wayang seperti dalam tradisi Jawa, sehingga, karya-karya R.A Kosasih bisa dinikmati pembaca Indonesia secara luas.


Lalu bagaimana kala komik wayang R.A Kosasih dipindah bentuk ke film animasi? Menurut Woody Satya Dharma dari Studio Urak-Urek yang membidani film animasi Mahabharata produksi PT. Rizky Pandawa Lima, alih rupa tersebut juga mengalami transformasi yang berarti. Kalau komik Mahabharata R.A Kosasih tampak realis, maka film animasi mencoba mengambil “jalan tengah”, yaitu mengurangi aspek yang rumit dari sisi gambar, seperti mahkota yang berukir detail dan kompleks dalam komik R.A Kosasih, saat dipindah ke film animasi harus disederhanakan, karena jika tetap setia dengan rupa komik maka secara teknis mengalami kesulitan. Mahkota tetap ditampilkan, namun dibentuk lebih sederhana karena film animasi adalah fantasi bergerak yang membutuhkan cara-cara khusus melampaui teknis komik. Di samping itu, ruang imajinatif penonton diberi porsi berlebih. Kalau di komik kesan dunia hitam-putih begitu mencolok, yang dalam istilah Bonneff “Komikus telah membersihkan imajinasi. Seluruh puisi, kekuatan magis kata-kata hilang dari kalimat-kalimat yang ditulisnya. Akal unggul terhadap perasaan, perjuangan berubah menjadi sekadar si baik melawan si jahat”, maka di film animasi dunia “utopis” tetap dibangun intens lewat gambar-gambar yang hiper-realitas.


Selain itu, konteks pembuatan film juga menentukan transformasi ini. Film animasi Mahabharata dibuat di tahun 2000an dan didasarkan pada komik edisi revisi yang terbit di tahun 70an. Horison kini jelas memberi warna terhadap Mahabharata sekarang. Misalnya, sidang kerajaan digambarkan seperti sidang DPR, di mana para anggota mendapat undangan sebelumnya, ada meja dan kursi sebagai tata ruangnya dan lain sebagainya. Lebih jauh dari itu, bahkan tokoh-tokoh rekaan baru yang sesuai selera kini pun ditambahkan, seperti Codot Ijo yang merupakan teliksandinya Sengkuni, Botho Bajang tampil seperti raksasa modern berambut ala Punk, Raksasa Kribo Banci gendut yang memakai rambut palsu dan lain sebagainya.


Meski berpijak pada episode dan cerita komik Mahabharata R.A Kosasih, namun perpindahan rupa ke film animasi meniscayakan invensi yang aktual di era sekarang. Mungkin inilah hukum dari upaya representasi yang selalu mendeformasi apa yang selalu coba ia hadirkan. (Najib Kailani)
Dimuat di Majalah GONG, edisi 84/VIII/2006